Bukankah jarak jauh membuat kita saling dewasa ???
menguji kedewasaan kita masing-masing apakah memang masih percaya atau tidak
dengan hubungan ini, dengan hati ini, dengan perasaan yang terbelenggu oleh
rasa rindu yang semu … hingga pada puncaknya kita akan di pertemukan. Entah
bagaimana cara mengatasi rasa rindu yang menumpuk-numpuk ini, bergunung-gunung,
berlapis-lapis, tapi bukan hal yang membuat senang dengan keadaan yang seperti
ini justru menyesakkan sekali karena tak bisa di lampiaskan secara langsung.
Yagh … mau bagaimana lagi ?? ini memang sudah
keputusan kita bukan? Bukankah hidup ini pilihan … dan kita memilih untuk
berpisah sementara melewati waktu dan hari-hari tanpa bisa bersama, bahkan
untuk bertatap mata pun tak bisa. Hanya bisa berkomunikasi lewat telepon itu
pun jika masih sempat dan ada waktu di sela-sela sisa waktu yang kita miliki,
di antara kesibukan yang mulai menjadikan diri ini bukan hanya sebagai manusia
biasa tetapi sebagai robot yang di kendalikan oleh waktu.
Mungkin di antara kesibukan yang kita miliki berdua
bisa menghilangkan rasa rindu yang bertumpuk itu, tapi apa yang bisa ku perbuat
dalam hati ini jikalau dalam kesendirian rindu ini akan yang merebak ke dalam
dada dan menjulur ke dalam urat nadi, menusuk ke dalam jiwa hingga untuk
bernafas pun bahkan terlalu berat menahannya. Hfuuh … andai saja jarak yang
jauh ini bisa di sambung menjadi dekat, andai saja waktu yang begitu lama ini
bisa di putar untuk lebih cepat. Hffuuuh selalu saja berandai-andai tanpa ada
kepastian.
Sudahlah … jangan di sesali, bukankah ini sudah
kesepakatan kita bersama? Justru dengan jarak jauh yang memisahkan kita membuat
kita semakin dewasa bukan? Yagh … mungkin benar tru dengan jarak yang teramat
jauh itu yang memaksa kita untuk bertahan dalam kedewasaan masing-masing.
Keputusan yang kau ambil sudah sangat bulat, saat
kau datang kepadaku di dalam keheningan malam, dan saat itu hujan rintik2 di
depan teras rumahku. Kau katakana padaku bahwa besok kau akan pergi, “untuk sementara
… hanya sementara saja tidak untuk selamanya. Ku harap kau mau menungguku,
karena aku pergi bukan karena keegoisan ku tapi untuk menggapai semua mimpi
yang selama ini aku tuliskan di dinding-dinding kamarku yang selama ini menjadi
do’aku dan menjadi kewajibanku untuk memenuhinya. Dan saat mimpi itu dapat ku
wujdakn aku akan kembali … tentunya kau adalah mimpi yang paling indah yang aku
punya, untuk selalu bersamamu adalah mimpi terbesar dalam hidupku. Untuk bisa
bersamamu perlu perjuangan yang sangat berarti, bahkan lebih berat dari, semua
mimpi yang ingin ku raih.”
Aku terdiam memandang bahumu. Bahkan saat kau
mengatakan hal itu kepadaku kau tak berani menatap mataku, entah … entah kau
terlalu takut untuk berpamitan atau terlalu kuat untuk mewujudkan semua
mimpi-mimpi mu sehingga kau berani mengatakan hal ini padaku. Entah … aku pun
tak sanggup berkata apapun saat kau mengatakan hal tersebut padaku. Tapi ….
Terlalu banyak yang ingin ku katakana saat kau mengatakan hal itu padaku, sesak
… tentu itu yang aku rasakan saat ini.
Tentunya kau perlu kekuatan ekstra untuk
menyampaikan berita ini padaku, entah berita gembira atau berita duka yang saat
ini kau sampaikan. Tapi …. aku tahu bahwa untuk menyampaikan berita ini sangat
sulit bagimu, aku tahu sifatmu yang sangat tertutup dan sulit mengatakan
sesuatu yang memang menjadi keinginanmu, apalagi ini menyangkut dua keinginan
yang sama kuat. Yang satu ingin sekali menggapai semua mimpimu, namun yang satu
lagi harus meninggalkan mimpimu yang lain untuk selalu bersama ku. Dan untuk
itu aku pun sangat sulit menjawabnya … ah … kenapa harus pergi jauh untuk bisa
menggapai semua mimpi-mimpi itu ??? apakah tidak ada tempat terdekat agar kita
tak selamanya berpisah?
“ Bagaimana??? Apakah kau mengizinkan aku untuk
pergi ? saat kau mengulangi pertanyaan itu untuk kedua kalinya kau benar-benar
menatap mataku, memohon, meminta dan berharap bahwa aku benar-benar bisa
mengizinkan kau pergi untuk sesaat. Namun jika kau tak mengizinkan aku pergi
juga taka pa-apa aku mengerti akan hal itu …” jawabnya datar walau ku belum
mengatakan apakah aku harus mengizinkan dia pergi atau tidak.
Hati ini masih ragu untuk menjawab pertanyaannya,
bahkan untuk mengatakan “iya” kata yang sangat sederhana pun aku tak mampu. Oh
… jika hanya mengandalkan perasaan serta keegoisanku tentu aku tak ingin dia
pergi, namun … jika aku aku mementingkan logika ku mana mungkin aku melarang
dia pergi … oh tuhan betapa berat pilihan yang engkau berikan kepada ku
sekarang.
“Aku … belum bisa menjawab sekarang. Bisakah aku
meminta waktu untuk sendiri … paling tidak sampai hati ini benar – benar tenang
dan menemukan sebuah jawaban yang engkau pinta.” Kau menatap mataku lama … dan
dengan pandangan berat, aaah …. Begitu suliat aku menjawab dengan tatapan yang
sama.”
Dan
saat kau benar-benar pergi meninggalkanku sendiri di sini, aku pun termenung
dalam sepi ..
Sepi
menyelimuti hati ini, bagaimana mungkin aku harus berpisah dengan orang yang
sangat aku cintai yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari hidupku. Apa yang
akan aku katakana kepada orang tua ku, bahwa ini adalah kepuitusan sangat berat
bagi diriku juga bagi mereka. Ah … untuk mengatakannya saja aku tidak tega
melihat ekspresi wajah mereka. Mengecewakan semua harapan mereka bahwa anak
bungsunya akan segera melepaskan masa lajang dalam waktu dekat ini, namun di
satu sisi aku juga tak mungkin tidak mengizinkan calon pasangan hidupku yang
akan menggapai mimpinya selama ini. Oh tuhan … aku benar- benar butuh bantuanmu,
semoga engkau mau menemani keluh kesahku mala mini dalam do’a, harapan dan
sebuah jawaban yang sampai detik ini aku belum bisa menjawabnya. Bantu aku
tuhan … bantu aku menjawab semua pertanyaan dan sebuah jawaban ini.” Aku
menatap hujan di teras dengan perasaan hampa, resah, dan gundah gulana.
“ Nak, … masuk di luar hujan, nanti kau masuk angin”
ucapan bunda menghapuskan lamunan panjangku … loh mana Faiz ? kok kamu
sendirian disini / tiba-tiba bunda sudah ada di samping ku, sudah pulang bun,
baru saja … tumben nak faiz tidak pamit dengan bunda … jawabnya lagi tanpa
menghiraukan jawabanku. Faiz buru-buru bun, ada urusan yang harus dia
selesaikan. Bunda memegang bahuku, kamu ada masalah dengan faiz ?, bunda
perhatikan setelah kepergian faiz kau sangat sedih. Kenapa? Ada masalah ya …
ceritakanlah sama bunda nak, siapa tahu bunda dapat membantu mu namun jika kau
keberatan untuk mengatakannya bunda tidak akan memaksa kamu sayang.” Aku
menghembuskan nafas berat, gak kenapa-kenapa kok bun, hanya masalah kecil biasa
seperti yang lain, justru semakin dekat dengan hari pernikahan masalah itu
muncul jawabku kalem.” Yah bunda mengerti apa yang sedang kamu alami, itu uuga
yang di alami kakak-kakakmu dulu, ya sudah ayo masuk ke dalam, bunda
menggandengku yang tak bisa ku tolak untuk mengikuti langkahnya ke dalam rumah.
Di dalam kamar aku masih belum bisa memejamkan
mataku, sebenarnya tubuh ini lelah … namun hati, pikiran dan perasaan ini pun
lelah. Aku masih duduk di atas meja belajarku sambil melihat keluar jendela, hujan
masih turun rintik-rintik membasahi pekarangan halaman rumahku, yagh … hujan
turun sama halnya dengan air mata ku yang turun bersama dengan sesaknya hati
ini. Biarlah hujan yang menemaniku malam ini agar aku benar-benar tak sendiri
menghadapi malam ini.
Perlahan aku langkahkan kakiku ke kamar mandi, aku
basahi wajahku dengan air wudhu, dan kemudian aku melaksanakan shalat sunnah
dua rakaat. Aku tumpahkan semua keluh kesah dan kekhawatiranku kepada tuhanku,
biarlah … aku hanya percaya bahwa rencana tuhan tentu lebih baik daripada
rencana manusia yang mudah rapuh. Lama aku bersujud untuk menenangkan hati dan
berkomunikasi dengan tuhanku langsung. Entah berapa tetes air mata yang
membanjiri sujud ini,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar