Jumat, 02 Januari 2015

Saat Cinta di ujung jalan



Bukankah jarak jauh membuat kita saling dewasa ??? menguji kedewasaan kita masing-masing apakah memang masih percaya atau tidak dengan hubungan ini, dengan hati ini, dengan perasaan yang terbelenggu oleh rasa rindu yang semu … hingga pada puncaknya kita akan di pertemukan. Entah bagaimana cara mengatasi rasa rindu yang menumpuk-numpuk ini, bergunung-gunung, berlapis-lapis, tapi bukan hal yang membuat senang dengan keadaan yang seperti ini justru menyesakkan sekali karena tak bisa di lampiaskan secara langsung.
Yagh … mau bagaimana lagi ?? ini memang sudah keputusan kita bukan? Bukankah hidup ini pilihan … dan kita memilih untuk berpisah sementara melewati waktu dan hari-hari tanpa bisa bersama, bahkan untuk bertatap mata pun tak bisa. Hanya bisa berkomunikasi lewat telepon itu pun jika masih sempat dan ada waktu di sela-sela sisa waktu yang kita miliki, di antara kesibukan yang mulai menjadikan diri ini bukan hanya sebagai manusia biasa tetapi sebagai robot yang di kendalikan oleh waktu.
Mungkin di antara kesibukan yang kita miliki berdua bisa menghilangkan rasa rindu yang bertumpuk itu, tapi apa yang bisa ku perbuat dalam hati ini jikalau dalam kesendirian rindu ini akan yang merebak ke dalam dada dan menjulur ke dalam urat nadi, menusuk ke dalam jiwa hingga untuk bernafas pun bahkan terlalu berat menahannya. Hfuuh … andai saja jarak yang jauh ini bisa di sambung menjadi dekat, andai saja waktu yang begitu lama ini bisa di putar untuk lebih cepat. Hffuuuh selalu saja berandai-andai tanpa ada kepastian.
Sudahlah … jangan di sesali, bukankah ini sudah kesepakatan kita bersama? Justru dengan jarak jauh yang memisahkan kita membuat kita semakin dewasa bukan? Yagh … mungkin benar tru dengan jarak yang teramat jauh itu yang memaksa kita untuk bertahan dalam kedewasaan masing-masing.
Keputusan yang kau ambil sudah sangat bulat, saat kau datang kepadaku di dalam keheningan malam, dan saat itu hujan rintik2 di depan teras rumahku. Kau katakana padaku bahwa besok kau akan pergi, “untuk sementara … hanya sementara saja tidak untuk selamanya. Ku harap kau mau menungguku, karena aku pergi bukan karena keegoisan ku tapi untuk menggapai semua mimpi yang selama ini aku tuliskan di dinding-dinding kamarku yang selama ini menjadi do’aku dan menjadi kewajibanku untuk memenuhinya. Dan saat mimpi itu dapat ku wujdakn aku akan kembali … tentunya kau adalah mimpi yang paling indah yang aku punya, untuk selalu bersamamu adalah mimpi terbesar dalam hidupku. Untuk bisa bersamamu perlu perjuangan yang sangat berarti, bahkan lebih berat dari, semua mimpi yang ingin ku raih.”
Aku terdiam memandang bahumu. Bahkan saat kau mengatakan hal itu kepadaku kau tak berani menatap mataku, entah … entah kau terlalu takut untuk berpamitan atau terlalu kuat untuk mewujudkan semua mimpi-mimpi mu sehingga kau berani mengatakan hal ini padaku. Entah … aku pun tak sanggup berkata apapun saat kau mengatakan hal tersebut padaku. Tapi …. Terlalu banyak yang ingin ku katakana saat kau mengatakan hal itu padaku, sesak … tentu itu yang aku rasakan saat ini.
Tentunya kau perlu kekuatan ekstra untuk menyampaikan berita ini padaku, entah berita gembira atau berita duka yang saat ini kau sampaikan. Tapi …. aku tahu bahwa untuk menyampaikan berita ini sangat sulit bagimu, aku tahu sifatmu yang sangat tertutup dan sulit mengatakan sesuatu yang memang menjadi keinginanmu, apalagi ini menyangkut dua keinginan yang sama kuat. Yang satu ingin sekali menggapai semua mimpimu, namun yang satu lagi harus meninggalkan mimpimu yang lain untuk selalu bersama ku. Dan untuk itu aku pun sangat sulit menjawabnya … ah … kenapa harus pergi jauh untuk bisa menggapai semua mimpi-mimpi itu ??? apakah tidak ada tempat terdekat agar kita tak selamanya berpisah?
“ Bagaimana??? Apakah kau mengizinkan aku untuk pergi ? saat kau mengulangi pertanyaan itu untuk kedua kalinya kau benar-benar menatap mataku, memohon, meminta dan berharap bahwa aku benar-benar bisa mengizinkan kau pergi untuk sesaat. Namun jika kau tak mengizinkan aku pergi juga taka pa-apa aku mengerti akan hal itu …” jawabnya datar walau ku belum mengatakan apakah aku harus mengizinkan dia pergi atau tidak.
Hati ini masih ragu untuk menjawab pertanyaannya, bahkan untuk mengatakan “iya” kata yang sangat sederhana pun aku tak mampu. Oh … jika hanya mengandalkan perasaan serta keegoisanku tentu aku tak ingin dia pergi, namun … jika aku aku mementingkan logika ku mana mungkin aku melarang dia pergi … oh tuhan betapa berat pilihan yang engkau berikan kepada ku sekarang.
“Aku … belum bisa menjawab sekarang. Bisakah aku meminta waktu untuk sendiri … paling tidak sampai hati ini benar – benar tenang dan menemukan sebuah jawaban yang engkau pinta.” Kau menatap mataku lama … dan dengan pandangan berat, aaah …. Begitu suliat aku menjawab dengan tatapan yang sama.”
Dan saat kau benar-benar pergi meninggalkanku sendiri di sini, aku pun termenung dalam sepi ..
Sepi menyelimuti hati ini, bagaimana mungkin aku harus berpisah dengan orang yang sangat aku cintai yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari hidupku. Apa yang akan aku katakana kepada orang tua ku, bahwa ini adalah kepuitusan sangat berat bagi diriku juga bagi mereka. Ah … untuk mengatakannya saja aku tidak tega melihat ekspresi wajah mereka. Mengecewakan semua harapan mereka bahwa anak bungsunya akan segera melepaskan masa lajang dalam waktu dekat ini, namun di satu sisi aku juga tak mungkin tidak mengizinkan calon pasangan hidupku yang akan menggapai mimpinya selama ini. Oh tuhan … aku benar- benar butuh bantuanmu, semoga engkau mau menemani keluh kesahku mala mini dalam do’a, harapan dan sebuah jawaban yang sampai detik ini aku belum bisa menjawabnya. Bantu aku tuhan … bantu aku menjawab semua pertanyaan dan sebuah jawaban ini.” Aku menatap hujan di teras dengan perasaan hampa, resah, dan gundah gulana.

“ Nak, … masuk di luar hujan, nanti kau masuk angin” ucapan bunda menghapuskan lamunan panjangku … loh mana Faiz ? kok kamu sendirian disini / tiba-tiba bunda sudah ada di samping ku, sudah pulang bun, baru saja … tumben nak faiz tidak pamit dengan bunda … jawabnya lagi tanpa menghiraukan jawabanku. Faiz buru-buru bun, ada urusan yang harus dia selesaikan. Bunda memegang bahuku, kamu ada masalah dengan faiz ?, bunda perhatikan setelah kepergian faiz kau sangat sedih. Kenapa? Ada masalah ya … ceritakanlah sama bunda nak, siapa tahu bunda dapat membantu mu namun jika kau keberatan untuk mengatakannya bunda tidak akan memaksa kamu sayang.” Aku menghembuskan nafas berat, gak kenapa-kenapa kok bun, hanya masalah kecil biasa seperti yang lain, justru semakin dekat dengan hari pernikahan masalah itu muncul jawabku kalem.” Yah bunda mengerti apa yang sedang kamu alami, itu uuga yang di alami kakak-kakakmu dulu, ya sudah ayo masuk ke dalam, bunda menggandengku yang tak bisa ku tolak untuk mengikuti langkahnya ke dalam rumah.
Di dalam kamar aku masih belum bisa memejamkan mataku, sebenarnya tubuh ini lelah … namun hati, pikiran dan perasaan ini pun lelah. Aku masih duduk di atas meja belajarku sambil melihat keluar jendela, hujan masih turun rintik-rintik membasahi pekarangan halaman rumahku, yagh … hujan turun sama halnya dengan air mata ku yang turun bersama dengan sesaknya hati ini. Biarlah hujan yang menemaniku malam ini agar aku benar-benar tak sendiri menghadapi malam ini.
Perlahan aku langkahkan kakiku ke kamar mandi, aku basahi wajahku dengan air wudhu, dan kemudian aku melaksanakan shalat sunnah dua rakaat. Aku tumpahkan semua keluh kesah dan kekhawatiranku kepada tuhanku, biarlah … aku hanya percaya bahwa rencana tuhan tentu lebih baik daripada rencana manusia yang mudah rapuh. Lama aku bersujud untuk menenangkan hati dan berkomunikasi dengan tuhanku langsung. Entah berapa tetes air mata yang membanjiri sujud ini,



   


























Tidak ada komentar:

Posting Komentar