Romi melangkahkan kakinya dengan
cepat ke masjid dekat rumahnya, ya Allah romi kesiangan. Ampuni romi ya Allah
tuturnya dalam hati, dia terus berlari menuju masjid al-ikhlas tersebut.
Sesampainya di masjid, imam sudah
melaksanakan rakaat yang pertama. Romi langsung merapatkan diri ke bagian shaff
yang tersisa dan langsung mengikuti irama gerakan imam yang sudah ruku’ itu.
Selepas shalat romi berdo’a khusyuk sekalai do’anya hanya satu, semoga rezeki
nya hari ini lebih banyak dari hari kemarin, Amiin.
Seusai do’a romi melangkahkan
kakinya ke pasar. Semoga masih banyak
orang dipasar, semoga masih banyak orang yang memerlukan jasanya sebagai
pengangkut belanjaan orang-orang yang keberatan menenteng kantong belanjanya,
semoga plastik yang ia bawa hari ini habis semua, harap romi masih dalam hati.
Sesampainya
dipasar romi mulai menjalankan aksinya. “plastik bu, plastik pak, plastik om,
tante, plastik merahnya, murah kok Cuma 500 perak ,teriaknya sambil keliling
menawarkan orang-orang yang membutuhkan plastiknya”. “Belanjaanya mau di
bawakan mbak?” tegurnya pada perempuan separuh baya yang menenteng belanjaan
tiga kali lipat dari biasanya. “ohh ... boleh dik,” hayo anter ke mobil yang di
parkiran situ ya, tunjuk ibu muda itu.” Iya mbak, sahutnya. Romi mengangkat
semua belanjaan yang di bawa wanita itu, ada 2 kardus dan 2 kantong plastik
merah yang isinya berbagai bahan panganan sehari-hari. “Nih dik uangnya, ibu
muda itu memberikan uang sebesar lima ribu rupiah kepada romi”. “ Maaf mbak,
romi gak ada kembalian uangnya, tunggu sebentar ya romi tukarkan dulu uangnya.”
Romi berkeliling kesana kemari mencari pecahan lima ribu rupiah, tapi entah
mengapa beberapa warung yang di tanyakan tidak mau memberikan uang tukaran itu
kepadanya. “Buat susuk nanti”, ujar bapak yang menjaga warung itu.
Romi, pun
kembali ke tempat ibu muda tadi. “Mbak ini uangnya, saya gak ada kembaliannya.”
Saya kembalikan saja pada mbak, ga pa pa yang tadi manenteng barang-barang mbak
saya ikhlas, tuturnya”. Ibu itu tersenyum mendengar pengakuan jujurnya, “sudah
ambil saja semuanya buat kamu, hitung-hitung sedekah”. “Oh, iya jangan panggil
mbak lagi, panggil ibu saja saya ini sudah punya 2 anak, jelas ibu muda lagi. “
iya baik bu jawab romi, terima kasih
uangnya semoga ibu mendapat rezeki yang lebih” tutur romi mendo’akan orang yang
memberikannya uang pagi itu.
Romi
melangkahkan kakinya lagi kedalam pasar, masih menawarkan plastik kreseknya
kepada orang yang berlalu lalang menjajakan kakinya dipasar. Dik, plastiknya
dua tutur seorang bapak yang sedang menemani istrinya berbelanja. “Ini pak,”
sambil memberikan plastik itu jepada bapak. Brapa dik? Seribu rupiah saja, ini
uangnya. “Terima kasih pak” ucapnya, alhamdulillah ya allah aku dapet rezeki
lagi dalam hati romi.
Romi tetap
menjajakan kakinya ke pelosok-pelosok pasar, menawarkan kantong plastik pada
setiap orang yang belanja di pasar. Hari sudah mulai siang matahari pun terik
menyengat kulit romi, romi menghitung pendapatannya hari ini dua belas ribu
tiga ratus. Alhamdulillah terima kasih ya allah, walaupun romi agak kesiangan
ke pasarnya tapi rezeki romi sudah cukup untuk dibawa pulang” ucapnya.
Uang tersebut langsung dibelikan romi
beras 1 liter, minyak seperempat, dua butir telur dan satu potong tempe. Masih
ada sisa seribu tiga ratus, uang ini akan di tabung oleh romi untuk bayar spp
disekolahnya.
Semua
belanjaannya itu dibawa pulang olehnya, sesampai di rumah romi meletakkan
belanjaanya di atas meja dapur. Romi lalu pergi kebelakang mengambil handuk dan
pergi mandi di sumur belakang rumahnya.
Seusai mandi romi siap-siap memakai seragam
sekolahnya yang sudah lusuh, kemudian ia makan siang dengan lauk yang dibawanya
tadi. Neneknya yang memasakan untuknya,”Nek, romi berangkat dulu ya
assalamu’alaikum” pamitnya. Iya, wa’alaikum salam jawab nenek. Hati-hati
dijalan belajar yang benar dan jangan nakal disekolah ya nduk, pesan neneknya.
Romi mengangguk dan pergi menuju sekolah.
Sekolahannya
terletak 1000 meter dari rumahnya, untuk pergi keskolah romi memerlukan waktu
setengah jam. Ya ... romi harus berjalan kaki untuk pergi kesekolahnya, tidak
seperti teman sebaya nya yang memakai sepeda atau di antar- jemput oleh orang
tua-nya.
Orang tua, batin
romi miris. Bahkan sampai saat umurnya sepuluh tahun romi blum pernah melihat
wajah orangtuanya. Kata nenek ibu-nya sudah meninggal ketika melahirkan romi
untuk ayahnya nenek tidak tahu apakah ayahnya masih hidup atau sudah mati.
Romi sampai di
sekolahnya, dia lalu menuju musolah sekolah dan melaksanakan shalat dzuhur.
Usai shlat ia kembali masuk kekelas menunaikan kewajibannya untuk belajar.
Selepas shalat
isya romi ingin menanyakan sesuatu pada nenek. “Nek”, panggilnya. Ada apa romi,
“romi ingin menanyakan sesuatu tapi nenek harus jawab dengan jujur dan jangan
marah pada romi, ya ..” katanya.” Sebenernya romi ini anak siapa sih nek,
Kenapa ayah dan ibu tidak menjenguk romi sama sekali seumur hidup, Kenapa romi
harus selalu tinggal dengan nenek?
Nenek menghela
nafas panjang, kemudian airmatanya turun satu persatu. “maaf ya nek, kalo romi
buat nenek sedih, tapi romi sudah besar nek, “Romi pengen tahu cerita yang
sesungguhnya. Umur romi sekarang sudah sepuluh tahun, katanya sambil menunjuk
kesepuluh jarinya itu.”
Dengan berat
hati, nenek menceritakan semuanya.“Waktu usia ibumu 17 tahun, dia tidak melanjutkan
sekolah seperti teman-temannya. Nenek hanya mampu menyekolahkannya sampai kelas
dua sma, waktu itu ibumu berhenti sekolah karena tidak mampu mebayar
administrasi sekolah yang menunggak selama 6 bulan, sehingga kepala sekolah
mengeluarkan dirinya.
Karena bosan
dirumah, yang hanya mengerjakan pekerjaan rumah yang itu-itu saja, ibumu jenuh.Sehingga,
ibumu meminta izin kepada nenek untuk bekerja di kota. “Untuk mendapatkan uang,
dan untuk membantu memperbaiki gubuk kami yang reot” katanya. Nenek tidak mengizinkannya pergi ke kota, nenek mau
ibumu di rumah saja walaupun miskin, tetapi nenek mau kita berdua berkumpul
dirumah ini. Nenek juga tidak rela membiarkan anak gadisnya yang cantik, pergi sendirian di kota tanpa sanak saudara
satupun. Nenek mendengar kalau orang-orang dikota itu jahat, tidak punya
prikemanusiaan, dan sering semena-mena terhadap orang lain. Tetapi ibumu tetap
memaksa, “kalo nur gak kerja gimana nur dapat uang bu?”kata ibu mu itu.
Akhirnya, dengan
berat hati nenek melepas kepergian ibumu. Selama sebulan tidak terdengar kabar
mengenai ibumu. Lalu, dua bulan kemudian ada sebuah surat dari ibumu yang
mengabarkan bahwa dirinya tengah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di
sebuah rumah majikannya orang cina, di sana ia betah karna majikan laki-lakinya
baik dan sayang sekali padanya sementara untuk istrinya sangat judes dan galak.
Begitu isi suratnya,
Selama satu
tahun ibumu tidak pernah pulang kerumah, nenek hanya bisa berdoa untuk kebaikan
ibumu. Sampai suatu hari, saat nenek sedang memasak di dapur. Tiba-tiba ada
seseorang yang mengetuk pintu rumah,nenek membukakan pintu itu dan nenek
mendapati ibumu yang masuk ke rumah sambil menangis. Nenek memeluk ibumu erat,
dan mencoba meredamkan tangisnya.
Ibumu
menceritakan hal sesungguhnya terjadi, kenapa ia menangis saat ia pulang ke
rumah. Nur sudah gak suci lagi, bu. Nur sudah dinodai oleh majikan laki-laki
nur, sekarang nur tengah hamil lima bulan. Huuu..huuu..uuu, waktu nur minta
pertanggungjwaban malah nur di usir olehnya, kemudian nur di pecat. Dia tidak
mengakui bahwa ia telah melakukannya. Dengan berat hati akhirnya nur pamit, dia
memberikan uang gaji nur bersama dengan uang ganti rugi setelah menghamili nur.
“ini untukmu, anggap saja sebagai ganti rugi atas perbuatanku. Tapi, ingat jangan
sampai istriku tahu” ujarnya waktu itu.
Astaghfirullahal’adzim
nenek tidak menyangka bahwa anak nenek, perempuan satu-satunya telah mengandung
janin tanpa ayah. Entahlah, nenek malu saat itu karena ibumu telah mencoreng
nama baik nenek. Akhirnya dengan besar hati nenek memaafkan ibumu, nenek juga
merasa bahwa penderitaannya adalah penderitaan nenek juga. Apalagi kami hanya
hidup berdua, kalo bukan nenek yang menemaninya syapa lagi? Nenek hanya bisa
menasehati ibumu bahwa janin yang dikandungnya berhak untuk hidup, untuk
menghirup nafas didunia ini.
Ibumu pernah
kalap, karena dia sangat membenci majikannya pernah suatu kali di menelan semua
obat penggugur kandungan saat itu nenek sedang mengaji di masjid, sepulang dari
masjid nenek melihat ibumu sudah sekarat, nenek lalu membawanya kepuskesmas
terdekat dibantu dengan beberapa orang warga. Untunglah nyawa ibu dan bayinya
berhasil diselamatkan, dokter hanya memberi saran bahwa jangan terlalu
memaksakan diri untuk menggugurkan bayinya, karena usia kandungan saat itu
sudah 7 bulan, jadi sangat kecil kemungkinanan bayi itu bisa digugurkan.
Dengan berat
hati, akhirnya ibumu pasrah untuk
membiarkanmu hidup dirahimnya. Nenek hanya bisa menasehati, jangan terlalu membenci anak ini ketika dia
lahir. Karena yang salah bukan bayinya, bayi ini tidak bersalah nur”. “Tetapi kalo
anak ini hidup dia akan di panggil dengan sebutan anak haram, bu. Karena dia
tidak memiliki ayah yang jelas.” Kata ibumu. Yang haram bukan bayi ini, nur.
Tetapi perbuatan ayah dan ibunya yang haram, bayi ini tetap halal dan berhak
untuk hidup didunia ini.
Ibu menyerah
saat usia kandungannya menganjak 9 bulan. Waktu itu hidup ibumu sangat
menderita, ia bagai kehilangan semangat hidup, tidak seceria biasanya. Beberapa
minggu kemudian ibumu melahirkan dirimu tepat jam 11 malam nak, ibu meregang
nyawa saat melahirkanmu di rumah ini, saat itu seorang bidan desa dan nenek
yang membantu proses persalinan ibumu. Ibumu meninggal setelah melahirkanmu
kedunia nak. Cerita nenek saat itu, menurut bidan desa yang membantu proses
persalinan, ibumu meninggal karena usia yang terlalu dini untuk melahirkan
sehingga menyebabkan si ibu meninggal muda saat melahirkan.
Untuk itu, nenek
yang merawatmu dari bayi hingga sekarang. Tugas kau sebagai anak yang berbakti,
berdo’alah untuknya berdo’a agar Allah mengampuni semua kesalahannya dan
ringankan siksanya didalam kubur maupun diakhirat nanti. Walau ibumu tidak
mengharapkan kehadiranmu didunia tetapi ibu sangat besar pengorbanannya untuk
melahirkanmmu sehingga ia merelakan nyawanya saat itu. Aku menangis mendengar
cerita nenek, oleh karena itu romi, kenapa mukamu agak sedikit berbeda dengan
orang-orang karena mukamu oriental seperti orang cina karena wajahmu mirip
dengan ayahmu.”
Ayah ? hfuuh,
aku tidak sudi memanggilnya ayah. Ia yang telah mencampakan kami dan lari dari
tanggungjawabnya, rutukku dalam hati.” Sekarang tugas romi hanya
sekolah,belajar, berjualan dan membantu orang membawa barang belanjaannya. Romi
ingin kelak bisa mencapai cita-citanya untuk meneruskan ke perguruan tinggi,
cita-cita itu mampu memupuknya untuk belajar lebih giat dan berdo’a agar
harapan dan cita-citanya terkabul. Apalagi, kata guru dan teman-teman mereka
romi anak yang pintar di sekolahnya.
10 Tahun
kemudian,
Dengan izin
Allah dan kekerasan hati romi untuk melanjutkan kuliahnya, Akhirnya Sekarang
romi sudah lulus dan wisuda dari universitas negeri di kotanya itu, nenek amat
terharu melihat cucunya berhasi berjuang dengan susah payah untuk menggapai
cita-citanya. Apalagi romi lulus dengan nilai com loude di universitasnya.
Romi lulusan
akuntansi perpajakan, saat ia melamar pekerjaan disebuah perusahaan dia di interview oleh seorang laki-laki yamg
sudah berumur 50 tahun. Laki-laki itu melihat penampilan romi dari atas hingga bawah lalu laki-laki itu
membaca daftar riwayat hidup romi. Di biodatanya tertera nama ibu : Nur Komala
Sari, laki-laki itu sedikit kaget saat membaca nya,tapi dibuatnya seolah-olah
tidak terjadi apa-apa dengan nama itu. Mengapa nama bapakmu tidak dicantumkan
disini anak muda?” tanya-nya. Saya tidak tahu nama ayah saya, dan saya juga
tidak pernah melihat wajahnya sampai saat ini”.
Bapak itu
tecengang mendengar penjelasan dari romi, dia terdiam beberapa saat. Dalam
diamnya, dia mengingat mengingat kejadian 22 tahun silam.
Yah ... kejadian
saat ibu romi bekerja di rumahnya, kejadian saat ibu romi menangis dan meminta
pertanggungjawabannya atas anak yang telah dikandungnya. Tanpa disadari olehnya
airmatanya menitik, dan menangis . Anakku ucapnya pelan, saat melihat wajah
romi. Romi terhenyak saat bapak itu memanggilnya dengan sebutan itu, maaf bapak
berkata apa tadi? Tanyanya saat itu, mungkin dia salah dengar atau ...
Ya, Muhammad
Romi Abdullah ... kau adalah anakku. Lihatlah nak wajahmu, sangat mirip dengan
diriku, saat melihat wajahmu, bapak seakan-akan melihat diri bapak 20 tahun
yang lalu. Ketahuilah nak, waktu itu aku yang telah menghamili ibumu dan
mengusirnya dari rumahku setelah dia meminta pertanggungjawaban pada ku dulu.
Saat itu, aku dikuasai nafsu setan saat melakukannya. Ibumu sangat cantik,
cantik sekali perangainya lembut dan dia sangat nurut kepada perintah majikan.
Entahlah saat itu, ada yang sedang merasuki ku saat istri ku sedang pergi
keluar kota dan dirumah hanya kami berdua. Niat biadab itu muncul saat bapak
sedang lembur malam menyelesaikan tugas dari kantor, saat itu nur ibumu
mengantarkan kopi ke meja kerja bapak disebelah kamar bapak dan istri. Entah
mengapa bapak kalap waktu itu. Meminta ibumu melakukannya untuk bapak, dengan rayuan
bapak akhirnya ibumu luluh. Hanya sekali, hanya sekali bapak melakukannya
dengan ibumu. Ibumu menangis, ya karna hanya sekali itu dia menyerahkan harta
paling berharganya pada bapak. Bapak menenenangkannya bahwa tidak akan terjadi
apa-apa. Beberapa bulan kemudian nur mengadukan sesuatu pada bapak, bahwa sudah
beberapa bulan ini dia tidak mengalami menstruasi, ia telah hamil dengan bapak
sebagai majikannya. Bapak menyesal, tetapi bapak tidak mau ketahuan perbuatn
bejat bapak dengan istri dan anak bapak. Akhirnya dengan berat hati, bapak
mengusirnya dari rumah dan memberikannya uang yang banyak untuk mengganti rugi
akibat perbuatan bapak dulu.
Penuturan yang
mengalir dari mulut pak anton, membuat romi kalap. Ia langsung menampar pipi
pria itu dan langsung pergi meninggalkan ruangan. Pak anton hanya menatap
kosong kepergian anaknya.
Akhirnya, tak
banyak yang dilakukan pak anton untuk dapat meminta maaf pada anaknya itu.
Dengan berat hati pak anton menuliskan surat untuk anaknya, romi. Anakku
(izinkan bapak memanggilmu anak, walau engkau tidak suka dengan sebutan itu).
Bapak adalah seorang mualaf sekarang, setelah kecelakaan pesawat yang telah
merenggut anak dan istri bapak sepuluh tahun yang lalu, bapak koma 2 minggu lamanya
akibat kecelakaan itu. Saat bapak koma, ia melihat ada secercah cahaya yang
menuntunnya untuk masuk kedalam cahaya itu, selang beberapa saat ada seorang
kakek yang mengatakan anton, ketahuilah
bahwa tuhanmu adalah Allah swt. Anton merinding mendengarnya, setelah beberapa
saat bercengkrama dengan kakek itu anton terbangun dari tidur panjangnya.
Setelah kematian
anak dan istrinya bapak mulai sedih karena hidup sebatangkara di dunia ini,
kemudian dia menuruti kata hatinya untuk menuju jalan rahmatan lil ‘alamin,
masuk islam. Setelah masuk islam bapak khilaf dan meminta ampun kepada Allah
karena terlalu banyak kesalahan yang bapak lakukan termasuk berzina dan
menelantarkan dirimu anak bapak. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati bapak
minta maaf padamu sebesar-besarnya. Bapak ingin kamu memaafkan bapak dan
tinggal bersama bapak untuk menebus kesalahan bapak yang kesekian kalinya. Jika
kamu tidak memaafkan bapak juga tidak apa-apa, semoga Allah selalu merahmatimu
nak.
Surat itu dibaca
oleh romi, dengan anjuran neneknya sudahlah romi, masalah itu adalah sebuah
masa lalumu. Maafkanlah bapakmu nak, walau bagaimanapun dia adalah orangtuamu,
orangtua kandungmu sayang. Kau adalah darah dagingnya, kembalilah karena kau
patut bersyukur masih memiliki seorang ayah yang mau mengakui kesalahan dan
meminta maaf atas perbuatannya yang telah menyia-nyiakan ibumu dan dirimu.
Berat memang untuk memaafkanny, tetapi ingatlah nak nenek tidak pernah
mengajarimu mennjadi seseorang yang pendendam. Romi diam mendengarkan nasihat
neneknya.
Keesokan harinya
romi melangkahkan kaki kekantor ayahnya, kemudian dia meminta maaf atas
kesalahannya kemarin telah menampar ayahnya sendiri. Ayahnya menangis melihat
anaknya kembali lagi di pelukannya, kedua ayah dan anak itupun berpelukan ...
Indahnya,
Romi melangkahkan kakinya dengan
cepat ke masjid dekat rumahnya, ya Allah romi kesiangan. Ampuni romi ya Allah
tuturnya dalam hati, dia terus berlari menuju masjid al-ikhlas tersebut.
Sesampainya di masjid, imam sudah
melaksanakan rakaat yang pertama. Romi langsung merapatkan diri ke bagian shaff
yang tersisa dan langsung mengikuti irama gerakan imam yang sudah ruku’ itu.
Selepas shalat romi berdo’a khusyuk sekalai do’anya hanya satu, semoga rezeki
nya hari ini lebih banyak dari hari kemarin, Amiin.
Seusai do’a romi melangkahkan
kakinya ke pasar. Semoga masih banyak
orang dipasar, semoga masih banyak orang yang memerlukan jasanya sebagai
pengangkut belanjaan orang-orang yang keberatan menenteng kantong belanjanya,
semoga plastik yang ia bawa hari ini habis semua, harap romi masih dalam hati.
Sesampainya
dipasar romi mulai menjalankan aksinya. “plastik bu, plastik pak, plastik om,
tante, plastik merahnya, murah kok Cuma 500 perak ,teriaknya sambil keliling
menawarkan orang-orang yang membutuhkan plastiknya”. “Belanjaanya mau di
bawakan mbak?” tegurnya pada perempuan separuh baya yang menenteng belanjaan
tiga kali lipat dari biasanya. “ohh ... boleh dik,” hayo anter ke mobil yang di
parkiran situ ya, tunjuk ibu muda itu.” Iya mbak, sahutnya. Romi mengangkat
semua belanjaan yang di bawa wanita itu, ada 2 kardus dan 2 kantong plastik
merah yang isinya berbagai bahan panganan sehari-hari. “Nih dik uangnya, ibu
muda itu memberikan uang sebesar lima ribu rupiah kepada romi”. “ Maaf mbak,
romi gak ada kembalian uangnya, tunggu sebentar ya romi tukarkan dulu uangnya.”
Romi berkeliling kesana kemari mencari pecahan lima ribu rupiah, tapi entah
mengapa beberapa warung yang di tanyakan tidak mau memberikan uang tukaran itu
kepadanya. “Buat susuk nanti”, ujar bapak yang menjaga warung itu.
Romi, pun
kembali ke tempat ibu muda tadi. “Mbak ini uangnya, saya gak ada kembaliannya.”
Saya kembalikan saja pada mbak, ga pa pa yang tadi manenteng barang-barang mbak
saya ikhlas, tuturnya”. Ibu itu tersenyum mendengar pengakuan jujurnya, “sudah
ambil saja semuanya buat kamu, hitung-hitung sedekah”. “Oh, iya jangan panggil
mbak lagi, panggil ibu saja saya ini sudah punya 2 anak, jelas ibu muda lagi. “
iya baik bu jawab romi, terima kasih
uangnya semoga ibu mendapat rezeki yang lebih” tutur romi mendo’akan orang yang
memberikannya uang pagi itu.
Romi
melangkahkan kakinya lagi kedalam pasar, masih menawarkan plastik kreseknya
kepada orang yang berlalu lalang menjajakan kakinya dipasar. Dik, plastiknya
dua tutur seorang bapak yang sedang menemani istrinya berbelanja. “Ini pak,”
sambil memberikan plastik itu jepada bapak. Brapa dik? Seribu rupiah saja, ini
uangnya. “Terima kasih pak” ucapnya, alhamdulillah ya allah aku dapet rezeki
lagi dalam hati romi.
Romi tetap
menjajakan kakinya ke pelosok-pelosok pasar, menawarkan kantong plastik pada
setiap orang yang belanja di pasar. Hari sudah mulai siang matahari pun terik
menyengat kulit romi, romi menghitung pendapatannya hari ini dua belas ribu
tiga ratus. Alhamdulillah terima kasih ya allah, walaupun romi agak kesiangan
ke pasarnya tapi rezeki romi sudah cukup untuk dibawa pulang” ucapnya.
Uang tersebut langsung dibelikan romi
beras 1 liter, minyak seperempat, dua butir telur dan satu potong tempe. Masih
ada sisa seribu tiga ratus, uang ini akan di tabung oleh romi untuk bayar spp
disekolahnya.
Semua
belanjaannya itu dibawa pulang olehnya, sesampai di rumah romi meletakkan
belanjaanya di atas meja dapur. Romi lalu pergi kebelakang mengambil handuk dan
pergi mandi di sumur belakang rumahnya.
Seusai mandi romi siap-siap memakai seragam
sekolahnya yang sudah lusuh, kemudian ia makan siang dengan lauk yang dibawanya
tadi. Neneknya yang memasakan untuknya,”Nek, romi berangkat dulu ya
assalamu’alaikum” pamitnya. Iya, wa’alaikum salam jawab nenek. Hati-hati
dijalan belajar yang benar dan jangan nakal disekolah ya nduk, pesan neneknya.
Romi mengangguk dan pergi menuju sekolah.
Sekolahannya
terletak 1000 meter dari rumahnya, untuk pergi keskolah romi memerlukan waktu
setengah jam. Ya ... romi harus berjalan kaki untuk pergi kesekolahnya, tidak
seperti teman sebaya nya yang memakai sepeda atau di antar- jemput oleh orang
tua-nya.
Orang tua, batin
romi miris. Bahkan sampai saat umurnya sepuluh tahun romi blum pernah melihat
wajah orangtuanya. Kata nenek ibu-nya sudah meninggal ketika melahirkan romi
untuk ayahnya nenek tidak tahu apakah ayahnya masih hidup atau sudah mati.
Romi sampai di
sekolahnya, dia lalu menuju musolah sekolah dan melaksanakan shalat dzuhur.
Usai shlat ia kembali masuk kekelas menunaikan kewajibannya untuk belajar.
Selepas shalat
isya romi ingin menanyakan sesuatu pada nenek. “Nek”, panggilnya. Ada apa romi,
“romi ingin menanyakan sesuatu tapi nenek harus jawab dengan jujur dan jangan
marah pada romi, ya ..” katanya.” Sebenernya romi ini anak siapa sih nek,
Kenapa ayah dan ibu tidak menjenguk romi sama sekali seumur hidup, Kenapa romi
harus selalu tinggal dengan nenek?
Nenek menghela
nafas panjang, kemudian airmatanya turun satu persatu. “maaf ya nek, kalo romi
buat nenek sedih, tapi romi sudah besar nek, “Romi pengen tahu cerita yang
sesungguhnya. Umur romi sekarang sudah sepuluh tahun, katanya sambil menunjuk
kesepuluh jarinya itu.”
Dengan berat
hati, nenek menceritakan semuanya.“Waktu usia ibumu 17 tahun, dia tidak melanjutkan
sekolah seperti teman-temannya. Nenek hanya mampu menyekolahkannya sampai kelas
dua sma, waktu itu ibumu berhenti sekolah karena tidak mampu mebayar
administrasi sekolah yang menunggak selama 6 bulan, sehingga kepala sekolah
mengeluarkan dirinya.
Karena bosan
dirumah, yang hanya mengerjakan pekerjaan rumah yang itu-itu saja, ibumu jenuh.Sehingga,
ibumu meminta izin kepada nenek untuk bekerja di kota. “Untuk mendapatkan uang,
dan untuk membantu memperbaiki gubuk kami yang reot” katanya. Nenek tidak mengizinkannya pergi ke kota, nenek mau
ibumu di rumah saja walaupun miskin, tetapi nenek mau kita berdua berkumpul
dirumah ini. Nenek juga tidak rela membiarkan anak gadisnya yang cantik, pergi sendirian di kota tanpa sanak saudara
satupun. Nenek mendengar kalau orang-orang dikota itu jahat, tidak punya
prikemanusiaan, dan sering semena-mena terhadap orang lain. Tetapi ibumu tetap
memaksa, “kalo nur gak kerja gimana nur dapat uang bu?”kata ibu mu itu.
Akhirnya, dengan
berat hati nenek melepas kepergian ibumu. Selama sebulan tidak terdengar kabar
mengenai ibumu. Lalu, dua bulan kemudian ada sebuah surat dari ibumu yang
mengabarkan bahwa dirinya tengah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di
sebuah rumah majikannya orang cina, di sana ia betah karna majikan laki-lakinya
baik dan sayang sekali padanya sementara untuk istrinya sangat judes dan galak.
Begitu isi suratnya,
Selama satu
tahun ibumu tidak pernah pulang kerumah, nenek hanya bisa berdoa untuk kebaikan
ibumu. Sampai suatu hari, saat nenek sedang memasak di dapur. Tiba-tiba ada
seseorang yang mengetuk pintu rumah,nenek membukakan pintu itu dan nenek
mendapati ibumu yang masuk ke rumah sambil menangis. Nenek memeluk ibumu erat,
dan mencoba meredamkan tangisnya.
Ibumu
menceritakan hal sesungguhnya terjadi, kenapa ia menangis saat ia pulang ke
rumah. Nur sudah gak suci lagi, bu. Nur sudah dinodai oleh majikan laki-laki
nur, sekarang nur tengah hamil lima bulan. Huuu..huuu..uuu, waktu nur minta
pertanggungjwaban malah nur di usir olehnya, kemudian nur di pecat. Dia tidak
mengakui bahwa ia telah melakukannya. Dengan berat hati akhirnya nur pamit, dia
memberikan uang gaji nur bersama dengan uang ganti rugi setelah menghamili nur.
“ini untukmu, anggap saja sebagai ganti rugi atas perbuatanku. Tapi, ingat jangan
sampai istriku tahu” ujarnya waktu itu.
Astaghfirullahal’adzim
nenek tidak menyangka bahwa anak nenek, perempuan satu-satunya telah mengandung
janin tanpa ayah. Entahlah, nenek malu saat itu karena ibumu telah mencoreng
nama baik nenek. Akhirnya dengan besar hati nenek memaafkan ibumu, nenek juga
merasa bahwa penderitaannya adalah penderitaan nenek juga. Apalagi kami hanya
hidup berdua, kalo bukan nenek yang menemaninya syapa lagi? Nenek hanya bisa
menasehati ibumu bahwa janin yang dikandungnya berhak untuk hidup, untuk
menghirup nafas didunia ini.
Ibumu pernah
kalap, karena dia sangat membenci majikannya pernah suatu kali di menelan semua
obat penggugur kandungan saat itu nenek sedang mengaji di masjid, sepulang dari
masjid nenek melihat ibumu sudah sekarat, nenek lalu membawanya kepuskesmas
terdekat dibantu dengan beberapa orang warga. Untunglah nyawa ibu dan bayinya
berhasil diselamatkan, dokter hanya memberi saran bahwa jangan terlalu
memaksakan diri untuk menggugurkan bayinya, karena usia kandungan saat itu
sudah 7 bulan, jadi sangat kecil kemungkinanan bayi itu bisa digugurkan.
Dengan berat
hati, akhirnya ibumu pasrah untuk
membiarkanmu hidup dirahimnya. Nenek hanya bisa menasehati, jangan terlalu membenci anak ini ketika dia
lahir. Karena yang salah bukan bayinya, bayi ini tidak bersalah nur”. “Tetapi kalo
anak ini hidup dia akan di panggil dengan sebutan anak haram, bu. Karena dia
tidak memiliki ayah yang jelas.” Kata ibumu. Yang haram bukan bayi ini, nur.
Tetapi perbuatan ayah dan ibunya yang haram, bayi ini tetap halal dan berhak
untuk hidup didunia ini.
Ibu menyerah
saat usia kandungannya menganjak 9 bulan. Waktu itu hidup ibumu sangat
menderita, ia bagai kehilangan semangat hidup, tidak seceria biasanya. Beberapa
minggu kemudian ibumu melahirkan dirimu tepat jam 11 malam nak, ibu meregang
nyawa saat melahirkanmu di rumah ini, saat itu seorang bidan desa dan nenek
yang membantu proses persalinan ibumu. Ibumu meninggal setelah melahirkanmu
kedunia nak. Cerita nenek saat itu, menurut bidan desa yang membantu proses
persalinan, ibumu meninggal karena usia yang terlalu dini untuk melahirkan
sehingga menyebabkan si ibu meninggal muda saat melahirkan.
Untuk itu, nenek
yang merawatmu dari bayi hingga sekarang. Tugas kau sebagai anak yang berbakti,
berdo’alah untuknya berdo’a agar Allah mengampuni semua kesalahannya dan
ringankan siksanya didalam kubur maupun diakhirat nanti. Walau ibumu tidak
mengharapkan kehadiranmu didunia tetapi ibu sangat besar pengorbanannya untuk
melahirkanmmu sehingga ia merelakan nyawanya saat itu. Aku menangis mendengar
cerita nenek, oleh karena itu romi, kenapa mukamu agak sedikit berbeda dengan
orang-orang karena mukamu oriental seperti orang cina karena wajahmu mirip
dengan ayahmu.”
Ayah ? hfuuh,
aku tidak sudi memanggilnya ayah. Ia yang telah mencampakan kami dan lari dari
tanggungjawabnya, rutukku dalam hati.” Sekarang tugas romi hanya
sekolah,belajar, berjualan dan membantu orang membawa barang belanjaannya. Romi
ingin kelak bisa mencapai cita-citanya untuk meneruskan ke perguruan tinggi,
cita-cita itu mampu memupuknya untuk belajar lebih giat dan berdo’a agar
harapan dan cita-citanya terkabul. Apalagi, kata guru dan teman-teman mereka
romi anak yang pintar di sekolahnya.
10 Tahun
kemudian,
Dengan izin
Allah dan kekerasan hati romi untuk melanjutkan kuliahnya, Akhirnya Sekarang
romi sudah lulus dan wisuda dari universitas negeri di kotanya itu, nenek amat
terharu melihat cucunya berhasi berjuang dengan susah payah untuk menggapai
cita-citanya. Apalagi romi lulus dengan nilai com loude di universitasnya.
Romi lulusan
akuntansi perpajakan, saat ia melamar pekerjaan disebuah perusahaan dia di interview oleh seorang laki-laki yamg
sudah berumur 50 tahun. Laki-laki itu melihat penampilan romi dari atas hingga bawah lalu laki-laki itu
membaca daftar riwayat hidup romi. Di biodatanya tertera nama ibu : Nur Komala
Sari, laki-laki itu sedikit kaget saat membaca nya,tapi dibuatnya seolah-olah
tidak terjadi apa-apa dengan nama itu. Mengapa nama bapakmu tidak dicantumkan
disini anak muda?” tanya-nya. Saya tidak tahu nama ayah saya, dan saya juga
tidak pernah melihat wajahnya sampai saat ini”.
Bapak itu
tecengang mendengar penjelasan dari romi, dia terdiam beberapa saat. Dalam
diamnya, dia mengingat mengingat kejadian 22 tahun silam.
Yah ... kejadian
saat ibu romi bekerja di rumahnya, kejadian saat ibu romi menangis dan meminta
pertanggungjawabannya atas anak yang telah dikandungnya. Tanpa disadari olehnya
airmatanya menitik, dan menangis . Anakku ucapnya pelan, saat melihat wajah
romi. Romi terhenyak saat bapak itu memanggilnya dengan sebutan itu, maaf bapak
berkata apa tadi? Tanyanya saat itu, mungkin dia salah dengar atau ...
Ya, Muhammad
Romi Abdullah ... kau adalah anakku. Lihatlah nak wajahmu, sangat mirip dengan
diriku, saat melihat wajahmu, bapak seakan-akan melihat diri bapak 20 tahun
yang lalu. Ketahuilah nak, waktu itu aku yang telah menghamili ibumu dan
mengusirnya dari rumahku setelah dia meminta pertanggungjawaban pada ku dulu.
Saat itu, aku dikuasai nafsu setan saat melakukannya. Ibumu sangat cantik,
cantik sekali perangainya lembut dan dia sangat nurut kepada perintah majikan.
Entahlah saat itu, ada yang sedang merasuki ku saat istri ku sedang pergi
keluar kota dan dirumah hanya kami berdua. Niat biadab itu muncul saat bapak
sedang lembur malam menyelesaikan tugas dari kantor, saat itu nur ibumu
mengantarkan kopi ke meja kerja bapak disebelah kamar bapak dan istri. Entah
mengapa bapak kalap waktu itu. Meminta ibumu melakukannya untuk bapak, dengan rayuan
bapak akhirnya ibumu luluh. Hanya sekali, hanya sekali bapak melakukannya
dengan ibumu. Ibumu menangis, ya karna hanya sekali itu dia menyerahkan harta
paling berharganya pada bapak. Bapak menenenangkannya bahwa tidak akan terjadi
apa-apa. Beberapa bulan kemudian nur mengadukan sesuatu pada bapak, bahwa sudah
beberapa bulan ini dia tidak mengalami menstruasi, ia telah hamil dengan bapak
sebagai majikannya. Bapak menyesal, tetapi bapak tidak mau ketahuan perbuatn
bejat bapak dengan istri dan anak bapak. Akhirnya dengan berat hati, bapak
mengusirnya dari rumah dan memberikannya uang yang banyak untuk mengganti rugi
akibat perbuatan bapak dulu.
Penuturan yang
mengalir dari mulut pak anton, membuat romi kalap. Ia langsung menampar pipi
pria itu dan langsung pergi meninggalkan ruangan. Pak anton hanya menatap
kosong kepergian anaknya.
Akhirnya, tak
banyak yang dilakukan pak anton untuk dapat meminta maaf pada anaknya itu.
Dengan berat hati pak anton menuliskan surat untuk anaknya, romi. Anakku
(izinkan bapak memanggilmu anak, walau engkau tidak suka dengan sebutan itu).
Bapak adalah seorang mualaf sekarang, setelah kecelakaan pesawat yang telah
merenggut anak dan istri bapak sepuluh tahun yang lalu, bapak koma 2 minggu lamanya
akibat kecelakaan itu. Saat bapak koma, ia melihat ada secercah cahaya yang
menuntunnya untuk masuk kedalam cahaya itu, selang beberapa saat ada seorang
kakek yang mengatakan anton, ketahuilah
bahwa tuhanmu adalah Allah swt. Anton merinding mendengarnya, setelah beberapa
saat bercengkrama dengan kakek itu anton terbangun dari tidur panjangnya.
Setelah kematian
anak dan istrinya bapak mulai sedih karena hidup sebatangkara di dunia ini,
kemudian dia menuruti kata hatinya untuk menuju jalan rahmatan lil ‘alamin,
masuk islam. Setelah masuk islam bapak khilaf dan meminta ampun kepada Allah
karena terlalu banyak kesalahan yang bapak lakukan termasuk berzina dan
menelantarkan dirimu anak bapak. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati bapak
minta maaf padamu sebesar-besarnya. Bapak ingin kamu memaafkan bapak dan
tinggal bersama bapak untuk menebus kesalahan bapak yang kesekian kalinya. Jika
kamu tidak memaafkan bapak juga tidak apa-apa, semoga Allah selalu merahmatimu
nak.
Surat itu dibaca
oleh romi, dengan anjuran neneknya sudahlah romi, masalah itu adalah sebuah
masa lalumu. Maafkanlah bapakmu nak, walau bagaimanapun dia adalah orangtuamu,
orangtua kandungmu sayang. Kau adalah darah dagingnya, kembalilah karena kau
patut bersyukur masih memiliki seorang ayah yang mau mengakui kesalahan dan
meminta maaf atas perbuatannya yang telah menyia-nyiakan ibumu dan dirimu.
Berat memang untuk memaafkanny, tetapi ingatlah nak nenek tidak pernah
mengajarimu mennjadi seseorang yang pendendam. Romi diam mendengarkan nasihat
neneknya.
Keesokan harinya
romi melangkahkan kaki kekantor ayahnya, kemudian dia meminta maaf atas
kesalahannya kemarin telah menampar ayahnya sendiri. Ayahnya menangis melihat
anaknya kembali lagi di pelukannya, kedua ayah dan anak itupun berpelukan ...
Indahnya,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar