Jumat, 02 Januari 2015

romi


Romi melangkahkan kakinya dengan cepat ke masjid dekat rumahnya, ya Allah romi kesiangan. Ampuni romi ya Allah tuturnya dalam hati, dia terus berlari menuju masjid al-ikhlas tersebut.
Sesampainya di masjid, imam sudah melaksanakan rakaat yang pertama. Romi langsung merapatkan diri ke bagian shaff yang tersisa dan langsung mengikuti irama gerakan imam yang sudah ruku’ itu. Selepas shalat romi berdo’a khusyuk sekalai do’anya hanya satu, semoga rezeki nya hari ini lebih banyak dari hari kemarin, Amiin.
Seusai do’a romi melangkahkan kakinya ke pasar. Semoga  masih banyak orang dipasar, semoga masih banyak orang yang memerlukan jasanya sebagai pengangkut belanjaan orang-orang yang keberatan menenteng kantong belanjanya, semoga plastik yang ia bawa hari ini habis semua, harap romi masih dalam hati.
Sesampainya dipasar romi mulai menjalankan aksinya. “plastik bu, plastik pak, plastik om, tante, plastik merahnya, murah kok Cuma 500 perak ,teriaknya sambil keliling menawarkan orang-orang yang membutuhkan plastiknya”. “Belanjaanya mau di bawakan mbak?” tegurnya pada perempuan separuh baya yang menenteng belanjaan tiga kali lipat dari biasanya. “ohh ... boleh dik,” hayo anter ke mobil yang di parkiran situ ya, tunjuk ibu muda itu.” Iya mbak, sahutnya. Romi mengangkat semua belanjaan yang di bawa wanita itu, ada 2 kardus dan 2 kantong plastik merah yang isinya berbagai bahan panganan sehari-hari. “Nih dik uangnya, ibu muda itu memberikan uang sebesar lima ribu rupiah kepada romi”. “ Maaf mbak, romi gak ada kembalian uangnya, tunggu sebentar ya romi tukarkan dulu uangnya.” Romi berkeliling kesana kemari mencari pecahan lima ribu rupiah, tapi entah mengapa beberapa warung yang di tanyakan tidak mau memberikan uang tukaran itu kepadanya. “Buat susuk nanti”, ujar bapak yang menjaga warung itu.
Romi, pun kembali ke tempat ibu muda tadi. “Mbak ini uangnya, saya gak ada kembaliannya.” Saya kembalikan saja pada mbak, ga pa pa yang tadi manenteng barang-barang mbak saya ikhlas, tuturnya”. Ibu itu tersenyum mendengar pengakuan jujurnya, “sudah ambil saja semuanya buat kamu, hitung-hitung sedekah”. “Oh, iya jangan panggil mbak lagi, panggil ibu saja saya ini sudah punya 2 anak, jelas ibu muda lagi. “ iya baik bu jawab romi, terima kasih uangnya semoga ibu mendapat rezeki yang lebih” tutur romi mendo’akan orang yang memberikannya uang pagi itu.
Romi melangkahkan kakinya lagi kedalam pasar, masih menawarkan plastik kreseknya kepada orang yang berlalu lalang menjajakan kakinya dipasar. Dik, plastiknya dua tutur seorang bapak yang sedang menemani istrinya berbelanja. “Ini pak,” sambil memberikan plastik itu jepada bapak. Brapa dik? Seribu rupiah saja, ini uangnya. “Terima kasih pak” ucapnya, alhamdulillah ya allah aku dapet rezeki lagi dalam hati romi.
Romi tetap menjajakan kakinya ke pelosok-pelosok pasar, menawarkan kantong plastik pada setiap orang yang belanja di pasar. Hari sudah mulai siang matahari pun terik menyengat kulit romi, romi menghitung pendapatannya hari ini dua belas ribu tiga ratus. Alhamdulillah terima kasih ya allah, walaupun romi agak kesiangan ke pasarnya tapi rezeki romi sudah cukup untuk dibawa pulang” ucapnya. Uang  tersebut langsung dibelikan romi beras 1 liter, minyak seperempat, dua butir telur dan satu potong tempe. Masih ada sisa seribu tiga ratus, uang ini akan di tabung oleh romi untuk bayar spp disekolahnya.
Semua belanjaannya itu dibawa pulang olehnya, sesampai di rumah romi meletakkan belanjaanya di atas meja dapur. Romi lalu pergi kebelakang mengambil handuk dan pergi mandi di sumur belakang rumahnya.
Seusai  mandi romi siap-siap memakai seragam sekolahnya yang sudah lusuh, kemudian ia makan siang dengan lauk yang dibawanya tadi. Neneknya yang memasakan untuknya,”Nek, romi berangkat dulu ya assalamu’alaikum” pamitnya. Iya, wa’alaikum salam jawab nenek. Hati-hati dijalan belajar yang benar dan jangan nakal disekolah ya nduk, pesan neneknya. Romi mengangguk dan pergi menuju sekolah.
Sekolahannya terletak 1000 meter dari rumahnya, untuk pergi keskolah romi memerlukan waktu setengah jam. Ya ... romi harus berjalan kaki untuk pergi kesekolahnya, tidak seperti teman sebaya nya yang memakai sepeda atau di antar- jemput oleh orang tua-nya.
Orang tua, batin romi miris. Bahkan sampai saat umurnya sepuluh tahun romi blum pernah melihat wajah orangtuanya. Kata nenek ibu-nya sudah meninggal ketika melahirkan romi untuk ayahnya nenek tidak tahu apakah ayahnya masih hidup atau sudah mati.
Romi sampai di sekolahnya, dia lalu menuju musolah sekolah dan melaksanakan shalat dzuhur. Usai shlat ia kembali masuk kekelas menunaikan kewajibannya untuk belajar.
Selepas shalat isya romi ingin menanyakan sesuatu pada nenek. “Nek”, panggilnya. Ada apa romi, “romi ingin menanyakan sesuatu tapi nenek harus jawab dengan jujur dan jangan marah pada romi, ya ..” katanya.” Sebenernya romi ini anak siapa sih nek, Kenapa ayah dan ibu tidak menjenguk romi sama sekali seumur hidup, Kenapa romi harus selalu tinggal dengan nenek?
Nenek menghela nafas panjang, kemudian airmatanya turun satu persatu. “maaf ya nek, kalo romi buat nenek sedih, tapi romi sudah besar nek, “Romi pengen tahu cerita yang sesungguhnya. Umur romi sekarang sudah sepuluh tahun, katanya sambil menunjuk kesepuluh jarinya itu.”
Dengan berat hati, nenek menceritakan semuanya.“Waktu usia ibumu 17 tahun, dia tidak melanjutkan sekolah seperti teman-temannya. Nenek hanya mampu menyekolahkannya sampai kelas dua sma, waktu itu ibumu berhenti sekolah karena tidak mampu mebayar administrasi sekolah yang menunggak selama 6 bulan, sehingga kepala sekolah mengeluarkan dirinya.
Karena bosan dirumah, yang hanya mengerjakan pekerjaan rumah yang itu-itu saja, ibumu jenuh.Sehingga, ibumu meminta izin kepada nenek untuk bekerja di kota. “Untuk mendapatkan uang, dan untuk membantu memperbaiki gubuk kami yang reot” katanya. Nenek  tidak mengizinkannya pergi ke kota, nenek mau ibumu di rumah saja walaupun miskin, tetapi nenek mau kita berdua berkumpul dirumah ini. Nenek juga tidak rela membiarkan anak gadisnya yang cantik,  pergi sendirian di kota tanpa sanak saudara satupun. Nenek mendengar kalau orang-orang dikota itu jahat, tidak punya prikemanusiaan, dan sering semena-mena terhadap orang lain. Tetapi ibumu tetap memaksa, “kalo nur gak kerja gimana nur dapat uang bu?”kata ibu mu itu.
Akhirnya, dengan berat hati nenek melepas kepergian ibumu. Selama sebulan tidak terdengar kabar mengenai ibumu. Lalu, dua bulan kemudian ada sebuah surat dari ibumu yang mengabarkan bahwa dirinya tengah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah rumah majikannya orang cina, di sana ia betah karna majikan laki-lakinya baik dan sayang sekali padanya sementara untuk istrinya sangat judes dan galak. Begitu isi suratnya,
Selama satu tahun ibumu tidak pernah pulang kerumah, nenek hanya bisa berdoa untuk kebaikan ibumu. Sampai suatu hari, saat nenek sedang memasak di dapur. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumah,nenek membukakan pintu itu dan nenek mendapati ibumu yang masuk ke rumah sambil menangis. Nenek memeluk ibumu erat, dan mencoba meredamkan tangisnya.
Ibumu menceritakan hal sesungguhnya terjadi, kenapa ia menangis saat ia pulang ke rumah. Nur sudah gak suci lagi, bu. Nur sudah dinodai oleh majikan laki-laki nur, sekarang nur tengah hamil lima bulan. Huuu..huuu..uuu, waktu nur minta pertanggungjwaban malah nur di usir olehnya, kemudian nur di pecat. Dia tidak mengakui bahwa ia telah melakukannya. Dengan berat hati akhirnya nur pamit, dia memberikan uang gaji nur bersama dengan uang ganti rugi setelah menghamili nur. “ini untukmu, anggap saja sebagai ganti rugi atas perbuatanku. Tapi, ingat jangan sampai istriku tahu” ujarnya waktu itu.
Astaghfirullahal’adzim nenek tidak menyangka bahwa anak nenek, perempuan satu-satunya telah mengandung janin tanpa ayah. Entahlah, nenek malu saat itu karena ibumu telah mencoreng nama baik nenek. Akhirnya dengan besar hati nenek memaafkan ibumu, nenek juga merasa bahwa penderitaannya adalah penderitaan nenek juga. Apalagi kami hanya hidup berdua, kalo bukan nenek yang menemaninya syapa lagi? Nenek hanya bisa menasehati ibumu bahwa janin yang dikandungnya berhak untuk hidup, untuk menghirup nafas didunia ini.
Ibumu pernah kalap, karena dia sangat membenci majikannya pernah suatu kali di menelan semua obat penggugur kandungan saat itu nenek sedang mengaji di masjid, sepulang dari masjid nenek melihat ibumu sudah sekarat, nenek lalu membawanya kepuskesmas terdekat dibantu dengan beberapa orang warga. Untunglah nyawa ibu dan bayinya berhasil diselamatkan, dokter hanya memberi saran bahwa jangan terlalu memaksakan diri untuk menggugurkan bayinya, karena usia kandungan saat itu sudah 7 bulan, jadi sangat kecil kemungkinanan bayi itu bisa digugurkan.
Dengan berat hati,  akhirnya ibumu pasrah untuk membiarkanmu hidup dirahimnya. Nenek hanya bisa menasehati,  jangan terlalu membenci anak ini ketika dia lahir. Karena yang salah bukan bayinya, bayi ini tidak bersalah nur”. “Tetapi kalo anak ini hidup dia akan di panggil dengan sebutan anak haram, bu. Karena dia tidak memiliki ayah yang jelas.” Kata ibumu. Yang haram bukan bayi ini, nur. Tetapi perbuatan ayah dan ibunya yang haram, bayi ini tetap halal dan berhak untuk hidup didunia ini.
Ibu menyerah saat usia kandungannya menganjak 9 bulan. Waktu itu hidup ibumu sangat menderita, ia bagai kehilangan semangat hidup, tidak seceria biasanya. Beberapa minggu kemudian ibumu melahirkan dirimu tepat jam 11 malam nak, ibu meregang nyawa saat melahirkanmu di rumah ini, saat itu seorang bidan desa dan nenek yang membantu proses persalinan ibumu. Ibumu meninggal setelah melahirkanmu kedunia nak. Cerita nenek saat itu, menurut bidan desa yang membantu proses persalinan, ibumu meninggal karena usia yang terlalu dini untuk melahirkan sehingga menyebabkan si ibu meninggal muda saat melahirkan.
Untuk itu, nenek yang merawatmu dari bayi hingga sekarang. Tugas kau sebagai anak yang berbakti, berdo’alah untuknya berdo’a agar Allah mengampuni semua kesalahannya dan ringankan siksanya didalam kubur maupun diakhirat nanti. Walau ibumu tidak mengharapkan kehadiranmu didunia tetapi ibu sangat besar pengorbanannya untuk melahirkanmmu sehingga ia merelakan nyawanya saat itu. Aku menangis mendengar cerita nenek, oleh karena itu romi, kenapa mukamu agak sedikit berbeda dengan orang-orang karena mukamu oriental seperti orang cina karena wajahmu mirip dengan ayahmu.”
Ayah ? hfuuh, aku tidak sudi memanggilnya ayah. Ia yang telah mencampakan kami dan lari dari tanggungjawabnya, rutukku dalam hati.” Sekarang tugas romi hanya sekolah,belajar, berjualan dan membantu orang membawa barang belanjaannya. Romi ingin kelak bisa mencapai cita-citanya untuk meneruskan ke perguruan tinggi, cita-cita itu mampu memupuknya untuk belajar lebih giat dan berdo’a agar harapan dan cita-citanya terkabul. Apalagi, kata guru dan teman-teman mereka romi anak yang pintar di sekolahnya.
10 Tahun kemudian,
Dengan izin Allah dan kekerasan hati romi untuk melanjutkan kuliahnya, Akhirnya Sekarang romi sudah lulus dan wisuda dari universitas negeri di kotanya itu, nenek amat terharu melihat cucunya berhasi berjuang dengan susah payah untuk menggapai cita-citanya. Apalagi romi lulus dengan nilai com loude di universitasnya.
Romi lulusan akuntansi perpajakan, saat ia melamar pekerjaan disebuah perusahaan  dia di interview oleh seorang laki-laki yamg sudah berumur 50 tahun. Laki-laki itu melihat penampilan romi  dari atas hingga bawah lalu laki-laki itu membaca daftar riwayat hidup romi. Di biodatanya tertera nama ibu : Nur Komala Sari, laki-laki itu sedikit kaget saat membaca nya,tapi dibuatnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengan nama itu. Mengapa nama bapakmu tidak dicantumkan disini anak muda?” tanya-nya. Saya tidak tahu nama ayah saya, dan saya juga tidak pernah melihat wajahnya sampai saat ini”.
Bapak itu tecengang mendengar penjelasan dari romi, dia terdiam beberapa saat. Dalam diamnya, dia mengingat mengingat kejadian 22 tahun silam.
Yah ... kejadian saat ibu romi bekerja di rumahnya, kejadian saat ibu romi menangis dan meminta pertanggungjawabannya atas anak yang telah dikandungnya. Tanpa disadari olehnya airmatanya menitik, dan menangis . Anakku ucapnya pelan, saat melihat wajah romi. Romi terhenyak saat bapak itu memanggilnya dengan sebutan itu, maaf bapak berkata apa tadi? Tanyanya saat itu, mungkin dia salah dengar atau ...
Ya, Muhammad Romi Abdullah ... kau adalah anakku. Lihatlah nak wajahmu, sangat mirip dengan diriku, saat melihat wajahmu, bapak seakan-akan melihat diri bapak 20 tahun yang lalu. Ketahuilah nak, waktu itu aku yang telah menghamili ibumu dan mengusirnya dari rumahku setelah dia meminta pertanggungjawaban pada ku dulu. Saat itu, aku dikuasai nafsu setan saat melakukannya. Ibumu sangat cantik, cantik sekali perangainya lembut dan dia sangat nurut kepada perintah majikan. Entahlah saat itu, ada yang sedang merasuki ku saat istri ku sedang pergi keluar kota dan dirumah hanya kami berdua. Niat biadab itu muncul saat bapak sedang lembur malam menyelesaikan tugas dari kantor, saat itu nur ibumu mengantarkan kopi ke meja kerja bapak disebelah kamar bapak dan istri. Entah mengapa bapak kalap waktu itu. Meminta  ibumu melakukannya untuk bapak, dengan rayuan bapak akhirnya ibumu luluh. Hanya sekali, hanya sekali bapak melakukannya dengan ibumu. Ibumu menangis, ya karna hanya sekali itu dia menyerahkan harta paling berharganya pada bapak. Bapak menenenangkannya bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Beberapa bulan kemudian nur mengadukan sesuatu pada bapak, bahwa sudah beberapa bulan ini dia tidak mengalami menstruasi, ia telah hamil dengan bapak sebagai majikannya. Bapak menyesal, tetapi bapak tidak mau ketahuan perbuatn bejat bapak dengan istri dan anak bapak. Akhirnya dengan berat hati, bapak mengusirnya dari rumah dan memberikannya uang yang banyak untuk mengganti rugi akibat perbuatan bapak dulu.
Penuturan yang mengalir dari mulut pak anton, membuat romi kalap. Ia langsung menampar pipi pria itu dan langsung pergi meninggalkan ruangan. Pak anton hanya menatap kosong  kepergian anaknya.
Akhirnya, tak banyak yang dilakukan pak anton untuk dapat meminta maaf pada anaknya itu. Dengan berat hati pak anton menuliskan surat untuk anaknya, romi. Anakku (izinkan bapak memanggilmu anak, walau engkau tidak suka dengan sebutan itu). Bapak adalah seorang mualaf sekarang, setelah kecelakaan pesawat yang telah merenggut anak dan istri bapak sepuluh tahun yang lalu, bapak koma 2 minggu lamanya akibat kecelakaan itu. Saat bapak koma, ia melihat ada secercah cahaya yang menuntunnya untuk masuk kedalam cahaya itu, selang beberapa saat ada seorang kakek yang mengatakan  anton, ketahuilah bahwa tuhanmu adalah Allah swt. Anton merinding mendengarnya, setelah beberapa saat bercengkrama dengan kakek itu anton terbangun dari tidur panjangnya.
Setelah kematian anak dan istrinya bapak mulai sedih karena hidup sebatangkara di dunia ini, kemudian dia menuruti kata hatinya untuk menuju jalan rahmatan lil ‘alamin, masuk islam. Setelah masuk islam bapak khilaf dan meminta ampun kepada Allah karena terlalu banyak kesalahan yang bapak lakukan termasuk berzina dan menelantarkan dirimu anak bapak. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati bapak minta maaf padamu sebesar-besarnya. Bapak ingin kamu memaafkan bapak dan tinggal bersama bapak untuk menebus kesalahan bapak yang kesekian kalinya. Jika kamu tidak memaafkan bapak juga tidak apa-apa, semoga Allah selalu merahmatimu nak.
Surat itu dibaca oleh romi, dengan anjuran neneknya sudahlah romi, masalah itu adalah sebuah masa lalumu. Maafkanlah bapakmu nak, walau bagaimanapun dia adalah orangtuamu, orangtua kandungmu sayang. Kau adalah darah dagingnya, kembalilah karena kau patut bersyukur masih memiliki seorang ayah yang mau mengakui kesalahan dan meminta maaf atas perbuatannya yang telah menyia-nyiakan ibumu dan dirimu. Berat memang untuk memaafkanny, tetapi ingatlah nak nenek tidak pernah mengajarimu mennjadi seseorang yang pendendam. Romi diam mendengarkan nasihat neneknya.
Keesokan harinya romi melangkahkan kaki kekantor ayahnya, kemudian dia meminta maaf atas kesalahannya kemarin telah menampar ayahnya sendiri. Ayahnya menangis melihat anaknya kembali lagi di pelukannya, kedua ayah dan anak itupun berpelukan ...
Indahnya,

































Romi melangkahkan kakinya dengan cepat ke masjid dekat rumahnya, ya Allah romi kesiangan. Ampuni romi ya Allah tuturnya dalam hati, dia terus berlari menuju masjid al-ikhlas tersebut.
Sesampainya di masjid, imam sudah melaksanakan rakaat yang pertama. Romi langsung merapatkan diri ke bagian shaff yang tersisa dan langsung mengikuti irama gerakan imam yang sudah ruku’ itu. Selepas shalat romi berdo’a khusyuk sekalai do’anya hanya satu, semoga rezeki nya hari ini lebih banyak dari hari kemarin, Amiin.
Seusai do’a romi melangkahkan kakinya ke pasar. Semoga  masih banyak orang dipasar, semoga masih banyak orang yang memerlukan jasanya sebagai pengangkut belanjaan orang-orang yang keberatan menenteng kantong belanjanya, semoga plastik yang ia bawa hari ini habis semua, harap romi masih dalam hati.
Sesampainya dipasar romi mulai menjalankan aksinya. “plastik bu, plastik pak, plastik om, tante, plastik merahnya, murah kok Cuma 500 perak ,teriaknya sambil keliling menawarkan orang-orang yang membutuhkan plastiknya”. “Belanjaanya mau di bawakan mbak?” tegurnya pada perempuan separuh baya yang menenteng belanjaan tiga kali lipat dari biasanya. “ohh ... boleh dik,” hayo anter ke mobil yang di parkiran situ ya, tunjuk ibu muda itu.” Iya mbak, sahutnya. Romi mengangkat semua belanjaan yang di bawa wanita itu, ada 2 kardus dan 2 kantong plastik merah yang isinya berbagai bahan panganan sehari-hari. “Nih dik uangnya, ibu muda itu memberikan uang sebesar lima ribu rupiah kepada romi”. “ Maaf mbak, romi gak ada kembalian uangnya, tunggu sebentar ya romi tukarkan dulu uangnya.” Romi berkeliling kesana kemari mencari pecahan lima ribu rupiah, tapi entah mengapa beberapa warung yang di tanyakan tidak mau memberikan uang tukaran itu kepadanya. “Buat susuk nanti”, ujar bapak yang menjaga warung itu.
Romi, pun kembali ke tempat ibu muda tadi. “Mbak ini uangnya, saya gak ada kembaliannya.” Saya kembalikan saja pada mbak, ga pa pa yang tadi manenteng barang-barang mbak saya ikhlas, tuturnya”. Ibu itu tersenyum mendengar pengakuan jujurnya, “sudah ambil saja semuanya buat kamu, hitung-hitung sedekah”. “Oh, iya jangan panggil mbak lagi, panggil ibu saja saya ini sudah punya 2 anak, jelas ibu muda lagi. “ iya baik bu jawab romi, terima kasih uangnya semoga ibu mendapat rezeki yang lebih” tutur romi mendo’akan orang yang memberikannya uang pagi itu.
Romi melangkahkan kakinya lagi kedalam pasar, masih menawarkan plastik kreseknya kepada orang yang berlalu lalang menjajakan kakinya dipasar. Dik, plastiknya dua tutur seorang bapak yang sedang menemani istrinya berbelanja. “Ini pak,” sambil memberikan plastik itu jepada bapak. Brapa dik? Seribu rupiah saja, ini uangnya. “Terima kasih pak” ucapnya, alhamdulillah ya allah aku dapet rezeki lagi dalam hati romi.
Romi tetap menjajakan kakinya ke pelosok-pelosok pasar, menawarkan kantong plastik pada setiap orang yang belanja di pasar. Hari sudah mulai siang matahari pun terik menyengat kulit romi, romi menghitung pendapatannya hari ini dua belas ribu tiga ratus. Alhamdulillah terima kasih ya allah, walaupun romi agak kesiangan ke pasarnya tapi rezeki romi sudah cukup untuk dibawa pulang” ucapnya. Uang  tersebut langsung dibelikan romi beras 1 liter, minyak seperempat, dua butir telur dan satu potong tempe. Masih ada sisa seribu tiga ratus, uang ini akan di tabung oleh romi untuk bayar spp disekolahnya.
Semua belanjaannya itu dibawa pulang olehnya, sesampai di rumah romi meletakkan belanjaanya di atas meja dapur. Romi lalu pergi kebelakang mengambil handuk dan pergi mandi di sumur belakang rumahnya.
Seusai  mandi romi siap-siap memakai seragam sekolahnya yang sudah lusuh, kemudian ia makan siang dengan lauk yang dibawanya tadi. Neneknya yang memasakan untuknya,”Nek, romi berangkat dulu ya assalamu’alaikum” pamitnya. Iya, wa’alaikum salam jawab nenek. Hati-hati dijalan belajar yang benar dan jangan nakal disekolah ya nduk, pesan neneknya. Romi mengangguk dan pergi menuju sekolah.
Sekolahannya terletak 1000 meter dari rumahnya, untuk pergi keskolah romi memerlukan waktu setengah jam. Ya ... romi harus berjalan kaki untuk pergi kesekolahnya, tidak seperti teman sebaya nya yang memakai sepeda atau di antar- jemput oleh orang tua-nya.
Orang tua, batin romi miris. Bahkan sampai saat umurnya sepuluh tahun romi blum pernah melihat wajah orangtuanya. Kata nenek ibu-nya sudah meninggal ketika melahirkan romi untuk ayahnya nenek tidak tahu apakah ayahnya masih hidup atau sudah mati.
Romi sampai di sekolahnya, dia lalu menuju musolah sekolah dan melaksanakan shalat dzuhur. Usai shlat ia kembali masuk kekelas menunaikan kewajibannya untuk belajar.
Selepas shalat isya romi ingin menanyakan sesuatu pada nenek. “Nek”, panggilnya. Ada apa romi, “romi ingin menanyakan sesuatu tapi nenek harus jawab dengan jujur dan jangan marah pada romi, ya ..” katanya.” Sebenernya romi ini anak siapa sih nek, Kenapa ayah dan ibu tidak menjenguk romi sama sekali seumur hidup, Kenapa romi harus selalu tinggal dengan nenek?
Nenek menghela nafas panjang, kemudian airmatanya turun satu persatu. “maaf ya nek, kalo romi buat nenek sedih, tapi romi sudah besar nek, “Romi pengen tahu cerita yang sesungguhnya. Umur romi sekarang sudah sepuluh tahun, katanya sambil menunjuk kesepuluh jarinya itu.”
Dengan berat hati, nenek menceritakan semuanya.“Waktu usia ibumu 17 tahun, dia tidak melanjutkan sekolah seperti teman-temannya. Nenek hanya mampu menyekolahkannya sampai kelas dua sma, waktu itu ibumu berhenti sekolah karena tidak mampu mebayar administrasi sekolah yang menunggak selama 6 bulan, sehingga kepala sekolah mengeluarkan dirinya.
Karena bosan dirumah, yang hanya mengerjakan pekerjaan rumah yang itu-itu saja, ibumu jenuh.Sehingga, ibumu meminta izin kepada nenek untuk bekerja di kota. “Untuk mendapatkan uang, dan untuk membantu memperbaiki gubuk kami yang reot” katanya. Nenek  tidak mengizinkannya pergi ke kota, nenek mau ibumu di rumah saja walaupun miskin, tetapi nenek mau kita berdua berkumpul dirumah ini. Nenek juga tidak rela membiarkan anak gadisnya yang cantik,  pergi sendirian di kota tanpa sanak saudara satupun. Nenek mendengar kalau orang-orang dikota itu jahat, tidak punya prikemanusiaan, dan sering semena-mena terhadap orang lain. Tetapi ibumu tetap memaksa, “kalo nur gak kerja gimana nur dapat uang bu?”kata ibu mu itu.
Akhirnya, dengan berat hati nenek melepas kepergian ibumu. Selama sebulan tidak terdengar kabar mengenai ibumu. Lalu, dua bulan kemudian ada sebuah surat dari ibumu yang mengabarkan bahwa dirinya tengah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah rumah majikannya orang cina, di sana ia betah karna majikan laki-lakinya baik dan sayang sekali padanya sementara untuk istrinya sangat judes dan galak. Begitu isi suratnya,
Selama satu tahun ibumu tidak pernah pulang kerumah, nenek hanya bisa berdoa untuk kebaikan ibumu. Sampai suatu hari, saat nenek sedang memasak di dapur. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumah,nenek membukakan pintu itu dan nenek mendapati ibumu yang masuk ke rumah sambil menangis. Nenek memeluk ibumu erat, dan mencoba meredamkan tangisnya.
Ibumu menceritakan hal sesungguhnya terjadi, kenapa ia menangis saat ia pulang ke rumah. Nur sudah gak suci lagi, bu. Nur sudah dinodai oleh majikan laki-laki nur, sekarang nur tengah hamil lima bulan. Huuu..huuu..uuu, waktu nur minta pertanggungjwaban malah nur di usir olehnya, kemudian nur di pecat. Dia tidak mengakui bahwa ia telah melakukannya. Dengan berat hati akhirnya nur pamit, dia memberikan uang gaji nur bersama dengan uang ganti rugi setelah menghamili nur. “ini untukmu, anggap saja sebagai ganti rugi atas perbuatanku. Tapi, ingat jangan sampai istriku tahu” ujarnya waktu itu.
Astaghfirullahal’adzim nenek tidak menyangka bahwa anak nenek, perempuan satu-satunya telah mengandung janin tanpa ayah. Entahlah, nenek malu saat itu karena ibumu telah mencoreng nama baik nenek. Akhirnya dengan besar hati nenek memaafkan ibumu, nenek juga merasa bahwa penderitaannya adalah penderitaan nenek juga. Apalagi kami hanya hidup berdua, kalo bukan nenek yang menemaninya syapa lagi? Nenek hanya bisa menasehati ibumu bahwa janin yang dikandungnya berhak untuk hidup, untuk menghirup nafas didunia ini.
Ibumu pernah kalap, karena dia sangat membenci majikannya pernah suatu kali di menelan semua obat penggugur kandungan saat itu nenek sedang mengaji di masjid, sepulang dari masjid nenek melihat ibumu sudah sekarat, nenek lalu membawanya kepuskesmas terdekat dibantu dengan beberapa orang warga. Untunglah nyawa ibu dan bayinya berhasil diselamatkan, dokter hanya memberi saran bahwa jangan terlalu memaksakan diri untuk menggugurkan bayinya, karena usia kandungan saat itu sudah 7 bulan, jadi sangat kecil kemungkinanan bayi itu bisa digugurkan.
Dengan berat hati,  akhirnya ibumu pasrah untuk membiarkanmu hidup dirahimnya. Nenek hanya bisa menasehati,  jangan terlalu membenci anak ini ketika dia lahir. Karena yang salah bukan bayinya, bayi ini tidak bersalah nur”. “Tetapi kalo anak ini hidup dia akan di panggil dengan sebutan anak haram, bu. Karena dia tidak memiliki ayah yang jelas.” Kata ibumu. Yang haram bukan bayi ini, nur. Tetapi perbuatan ayah dan ibunya yang haram, bayi ini tetap halal dan berhak untuk hidup didunia ini.
Ibu menyerah saat usia kandungannya menganjak 9 bulan. Waktu itu hidup ibumu sangat menderita, ia bagai kehilangan semangat hidup, tidak seceria biasanya. Beberapa minggu kemudian ibumu melahirkan dirimu tepat jam 11 malam nak, ibu meregang nyawa saat melahirkanmu di rumah ini, saat itu seorang bidan desa dan nenek yang membantu proses persalinan ibumu. Ibumu meninggal setelah melahirkanmu kedunia nak. Cerita nenek saat itu, menurut bidan desa yang membantu proses persalinan, ibumu meninggal karena usia yang terlalu dini untuk melahirkan sehingga menyebabkan si ibu meninggal muda saat melahirkan.
Untuk itu, nenek yang merawatmu dari bayi hingga sekarang. Tugas kau sebagai anak yang berbakti, berdo’alah untuknya berdo’a agar Allah mengampuni semua kesalahannya dan ringankan siksanya didalam kubur maupun diakhirat nanti. Walau ibumu tidak mengharapkan kehadiranmu didunia tetapi ibu sangat besar pengorbanannya untuk melahirkanmmu sehingga ia merelakan nyawanya saat itu. Aku menangis mendengar cerita nenek, oleh karena itu romi, kenapa mukamu agak sedikit berbeda dengan orang-orang karena mukamu oriental seperti orang cina karena wajahmu mirip dengan ayahmu.”
Ayah ? hfuuh, aku tidak sudi memanggilnya ayah. Ia yang telah mencampakan kami dan lari dari tanggungjawabnya, rutukku dalam hati.” Sekarang tugas romi hanya sekolah,belajar, berjualan dan membantu orang membawa barang belanjaannya. Romi ingin kelak bisa mencapai cita-citanya untuk meneruskan ke perguruan tinggi, cita-cita itu mampu memupuknya untuk belajar lebih giat dan berdo’a agar harapan dan cita-citanya terkabul. Apalagi, kata guru dan teman-teman mereka romi anak yang pintar di sekolahnya.
10 Tahun kemudian,
Dengan izin Allah dan kekerasan hati romi untuk melanjutkan kuliahnya, Akhirnya Sekarang romi sudah lulus dan wisuda dari universitas negeri di kotanya itu, nenek amat terharu melihat cucunya berhasi berjuang dengan susah payah untuk menggapai cita-citanya. Apalagi romi lulus dengan nilai com loude di universitasnya.
Romi lulusan akuntansi perpajakan, saat ia melamar pekerjaan disebuah perusahaan  dia di interview oleh seorang laki-laki yamg sudah berumur 50 tahun. Laki-laki itu melihat penampilan romi  dari atas hingga bawah lalu laki-laki itu membaca daftar riwayat hidup romi. Di biodatanya tertera nama ibu : Nur Komala Sari, laki-laki itu sedikit kaget saat membaca nya,tapi dibuatnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengan nama itu. Mengapa nama bapakmu tidak dicantumkan disini anak muda?” tanya-nya. Saya tidak tahu nama ayah saya, dan saya juga tidak pernah melihat wajahnya sampai saat ini”.
Bapak itu tecengang mendengar penjelasan dari romi, dia terdiam beberapa saat. Dalam diamnya, dia mengingat mengingat kejadian 22 tahun silam.
Yah ... kejadian saat ibu romi bekerja di rumahnya, kejadian saat ibu romi menangis dan meminta pertanggungjawabannya atas anak yang telah dikandungnya. Tanpa disadari olehnya airmatanya menitik, dan menangis . Anakku ucapnya pelan, saat melihat wajah romi. Romi terhenyak saat bapak itu memanggilnya dengan sebutan itu, maaf bapak berkata apa tadi? Tanyanya saat itu, mungkin dia salah dengar atau ...
Ya, Muhammad Romi Abdullah ... kau adalah anakku. Lihatlah nak wajahmu, sangat mirip dengan diriku, saat melihat wajahmu, bapak seakan-akan melihat diri bapak 20 tahun yang lalu. Ketahuilah nak, waktu itu aku yang telah menghamili ibumu dan mengusirnya dari rumahku setelah dia meminta pertanggungjawaban pada ku dulu. Saat itu, aku dikuasai nafsu setan saat melakukannya. Ibumu sangat cantik, cantik sekali perangainya lembut dan dia sangat nurut kepada perintah majikan. Entahlah saat itu, ada yang sedang merasuki ku saat istri ku sedang pergi keluar kota dan dirumah hanya kami berdua. Niat biadab itu muncul saat bapak sedang lembur malam menyelesaikan tugas dari kantor, saat itu nur ibumu mengantarkan kopi ke meja kerja bapak disebelah kamar bapak dan istri. Entah mengapa bapak kalap waktu itu. Meminta  ibumu melakukannya untuk bapak, dengan rayuan bapak akhirnya ibumu luluh. Hanya sekali, hanya sekali bapak melakukannya dengan ibumu. Ibumu menangis, ya karna hanya sekali itu dia menyerahkan harta paling berharganya pada bapak. Bapak menenenangkannya bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Beberapa bulan kemudian nur mengadukan sesuatu pada bapak, bahwa sudah beberapa bulan ini dia tidak mengalami menstruasi, ia telah hamil dengan bapak sebagai majikannya. Bapak menyesal, tetapi bapak tidak mau ketahuan perbuatn bejat bapak dengan istri dan anak bapak. Akhirnya dengan berat hati, bapak mengusirnya dari rumah dan memberikannya uang yang banyak untuk mengganti rugi akibat perbuatan bapak dulu.
Penuturan yang mengalir dari mulut pak anton, membuat romi kalap. Ia langsung menampar pipi pria itu dan langsung pergi meninggalkan ruangan. Pak anton hanya menatap kosong  kepergian anaknya.
Akhirnya, tak banyak yang dilakukan pak anton untuk dapat meminta maaf pada anaknya itu. Dengan berat hati pak anton menuliskan surat untuk anaknya, romi. Anakku (izinkan bapak memanggilmu anak, walau engkau tidak suka dengan sebutan itu). Bapak adalah seorang mualaf sekarang, setelah kecelakaan pesawat yang telah merenggut anak dan istri bapak sepuluh tahun yang lalu, bapak koma 2 minggu lamanya akibat kecelakaan itu. Saat bapak koma, ia melihat ada secercah cahaya yang menuntunnya untuk masuk kedalam cahaya itu, selang beberapa saat ada seorang kakek yang mengatakan  anton, ketahuilah bahwa tuhanmu adalah Allah swt. Anton merinding mendengarnya, setelah beberapa saat bercengkrama dengan kakek itu anton terbangun dari tidur panjangnya.
Setelah kematian anak dan istrinya bapak mulai sedih karena hidup sebatangkara di dunia ini, kemudian dia menuruti kata hatinya untuk menuju jalan rahmatan lil ‘alamin, masuk islam. Setelah masuk islam bapak khilaf dan meminta ampun kepada Allah karena terlalu banyak kesalahan yang bapak lakukan termasuk berzina dan menelantarkan dirimu anak bapak. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati bapak minta maaf padamu sebesar-besarnya. Bapak ingin kamu memaafkan bapak dan tinggal bersama bapak untuk menebus kesalahan bapak yang kesekian kalinya. Jika kamu tidak memaafkan bapak juga tidak apa-apa, semoga Allah selalu merahmatimu nak.
Surat itu dibaca oleh romi, dengan anjuran neneknya sudahlah romi, masalah itu adalah sebuah masa lalumu. Maafkanlah bapakmu nak, walau bagaimanapun dia adalah orangtuamu, orangtua kandungmu sayang. Kau adalah darah dagingnya, kembalilah karena kau patut bersyukur masih memiliki seorang ayah yang mau mengakui kesalahan dan meminta maaf atas perbuatannya yang telah menyia-nyiakan ibumu dan dirimu. Berat memang untuk memaafkanny, tetapi ingatlah nak nenek tidak pernah mengajarimu mennjadi seseorang yang pendendam. Romi diam mendengarkan nasihat neneknya.
Keesokan harinya romi melangkahkan kaki kekantor ayahnya, kemudian dia meminta maaf atas kesalahannya kemarin telah menampar ayahnya sendiri. Ayahnya menangis melihat anaknya kembali lagi di pelukannya, kedua ayah dan anak itupun berpelukan ...
Indahnya,






















































Tidak ada komentar:

Posting Komentar